Di tahun 1960, kehidupan berjemaat bagi 35 keluarga di Batukadera penuh tantangan. Untuk menghadiri kebaktian pagi di Gereja Kota Kupang, mereka harus berjuang melintasi jalan yang belum terbentuk dan kesulitan air bersih. Melihat kesulitan ini, Ketua Majelis Jemaat Kota Kupang, alm. Bapak D. S. T. T. Ngefak, memberikan sebuah gagasan sederhana namun bijak: mengadakan kebaktian sore di Batukadera sendiri. Gagasan yang disambut baik ini pun diwujudkan.
Pada sebuah Minggu sore, 31 Agustus 1960, sejarah dimulai. Di rumah darurat milik alm. Bapak Elias Tulle, sekitar 60 jemaat berkumpul untuk kebaktian perdana yang dipimpin oleh Pdt. A. Toisuta. Momen sederhana inilah yang kelak ditetapkan sebagai kelahiran Jemaat Imanuel Batukadera. Semangat itu terus mengalir. Dengan gotong royong, jemaat membangun gedung pertama dari daun kelapa di atas tanah sumbangan Bapak Herman Missa pada 1961. Ketika bangunan itu rusak, mereka membangun lagi yang lebih besar pada 1966. Mimpi akan rumah ibadah yang tetap tak pernah padam, dan pada 1974, batu pertama gedung permanen diletakkan, yang akhirnya rampung dan digunakan sejak 1988.
Perjalanan iman ini bukan hanya tentang bangunan, tetapi tentang komunitas yang bertumbuh. Dari 35 keluarga, jemaat berkembang menjadi lebih dari 200 keluarga. Dari kebaktian sore mingguan, berkembang menjadi pelayanan yang dinamis dengan berbagai ibadah dan kelompok. Pelayanan pendeta dimulai pada 1978, dan banyak koster serta paduan suara telah mengabdikan diri. Aset jemaat pun bertambah, mencerminkan kehidupan bersama yang makin kokoh.
Hingga pada Desember 2025, setelah lebih dari enam dekade, jemaat tetap bersyukur dan bersatu hati. Kisah ini adalah tentang bagaimana iman yang gigih, gotong royong, dan kepasrahan pada tuntunan Tuhan, mengubah kesulitan menjadi berkat, dan sebuah kebaktian sederhana di rumah darurat menjadi jemaat yang mandiri dan bersemangat. Inilah cerita Jemaat Imanuel Batukadera, sebuah persekutuan yang dibangun di atas fondasi iman, harapan, dan kasih.